Di atas jalan dakwah ini…

the_calm_lake_2560x1600.jpg

Di dalam jalan dakwah yang kita cintai ini, kita akan bertemu dengan pelbagai ragam dan tabiat yang kita sendiri kadang-kadang tidak faham kenapa ia berlaku. Tidak kira ia datang dari tempat atau masa atau saudara-saudara kita sendiri yang kita cintai. Memang itulah jalan dakwah mengajar kita untuk terus bersabar. Ya, kadang-kadang untuk bersikap lapang dada pada saat pertama terpalit kekalutan tersebut sangat sukar dan kadang-kadang bahasa badan kita telah mengekspresikan perasaan kita tanpa kita sedari atau kita niatkan.

Sejak menfana’kan diri ini di atas jalan perjuangan untuk beberapa tahun, sungguh dapat merasakan kesabaran dan toleransi itu sangat diperlukan untuk seorang da’i yang mukmin. Sabar itu seni dan ia memerlukan latihan yang sangat hebat untuk mencapainya. Di dalam surah Ali-Imran, ayat 200 itu, Allah mengatakan kepada orang beriman dengan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (3:200)

Untuk menjadi golongan yang bersabar,  pertama perlu beriman kepada Allah secara total. Tiada kompromi dalam merasakan Allah itu ialah hubungan pertama dan paling tertinggi dalam kehidupan kita. Jika tiada iman dan kepercayaan yang hakiki bahawa Allah ialah Ilah dalam kehidupan kita, mana mungkin kita mampu bersabar dengan ujian dan cabaran dalam kehidupan yang fana’ ini.

Sungguh, telah dilihat ramai da’i yang tidak dapat bersabar dengan baik. Mereka memanifestasikan sifat kurang sabar dengan tindakan-tindakan mereka yang sangat sukar difahami. Mereka merasakan sabar mereka sudah melampaui had mereka dan tindakan menyembunyikan diri atau melarikan diri adalah terbaik dan meringankan. Pengalaman telah membuktikan  bahawa, ia langsung tidak menyelesaikan apa-apa masalah dan malah, nauzubillah, kita yang akan terkorban dari ketidak sabaran kita.

Begitulah, sabar itu ialah seni yang perlu dipelajari oleh seorang daei mukmin. Ia tidak datang dengan sekadar meratapi masalah itu dan membiarkan orang lain yang menyelesaikan. Tetapi ia datang dengan merasakan bahawa ia ialah ujian dari Allah dan ia juga merupakan muhasabah diri sejauh mana kita mengharapkan Allah sebagai penyelamat kita. Maka, penerimaan kekalutan atau masalah itu dengan merasakan kebersamaan dengan Allah, maka kita dengan sabarnya menyelesaikan masalah itu dengan tenang dan sabar. Lalu, Allah membukakan jalan-jalan yang tidak kita sangkakan seperti di dalam surah At-Talaq, ayat 3:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (65:3)

Begitulah Allah memperlihatkan kebesaran-kebesaranNya melalui ayat-ayatNya. Ikhwah fillah, jalan dakwah lah yg mengajarkan kepada ku tentang nilai-nilai dan seni kesabaran. Ia sukar tetapi ia sangat dirindui oleh Allah. Innallaha ma’ass sobirrun.

Wallahua’lam.

***

-filhaqiqatulislah-

Kami mengepung manusia dengan cinta

Advertisements

Ulasan daripada Pembaca

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s