Titipan khas untuk para du’at yang ikhlas

kader

Di saat engkau melihat manusia lain sedang bergembira dengan kejayaan yang mereka idamkan. Engkau tersenyum dan seringkali engkau berbisik, “Alangkah indahnya hidup aku ini seperti mereka”. Sedangkan, di saat itu, engkau sedang menahan keinginanmu untuk bergembira seadanya selagi kejayaan dakwah belum dicapai dan keperitan umat sedang berpanjangan. Kamu lelah memikirnya dan berusaha untuk mengubatinya sehinggakan kamu merasakan keperitan tersebut.

Di saat engkau melihat manusia lain sedang sibuk menyatakan kekayaan di dalam akaun bank mereka, engkau masih berkira-kira adakah cukup duit yang ada di tangan engkau untuk dakwahmu, untuk tanggungjawabmu, untuk keluargamu, untuk keperluanmu. Namun, terpaksa engkau katakan, “Wahai nafsu dan keinginan diriku, duit yang ada di dalam genggamanku ini bukan untuk kamu.” Maka, engkau berpatah balik dari tempat yang menjual keinginan nafsumu.

Di saat engkau melihat manusia lain bergegas untuk mengisi masa lapang mereka dengan keseronokan dunia, engkau berbisik, “Alangkah baiknya jika aku turut bersama dengan mereka untuk seketika”. Namun hakikatnya, engkau sedang bersiap-siap untuk berjumpa dengan mutarabbi dan memenuhi kehendak-kehendak dakwah yang kadang-kadang, memaksa kamu untuk berpenat lelah untuknya.

Di saat engkau melihat lelaki dan wanita lain yang beramah mesra dan bergurau senda, kadang-kadang terbisik di hati kamu, “Alangkah romantisnya berbual-bual dengan mereka”. Sedangkan di saat itu, engkau sedang memikirkan di mana mutarabbi-mutarabbi atau saudara-saudaramu yang engkau kasihi kerana Allah untuk berbual-bual mendalami masalah-masalah mereka demi kebaikan dakwah. Dan kadang-kadang, engkau terpaksa menangguh niat untuk berkahwin atas sebab komitmen tanggungjawab dakwah dan kewangan yang mendesak dan tidak punya pilihan.

Di saat engkau melihat manusia lain mempunyai masa yang lapang untuk memberikan fokus kepada kehidupan mereka, engkau berbisik, “Alangkah baiknya jika aku punya masa yang banyak seperti mereka”. Tetapi hakikatnya, engkau merasakan masa yang ada, tidak cukup untuk memenuhi kehendak dakwah dan tarbiyah dan kadang-kadang, akibat kelemahan manusiawi, engkau terabai keperluan dirimu.

Di saat engkau melihat manusia lain memperoleh kesenangan dunia yang kau juga inginkan, “Alangkah senangnya hidupku jika aku juga sebahagian dari mereka!”. Namun hakikatnya, engkau sedang ditimpa ujian yang mendesak engkau untuk membuat keputusan yang memihak kepada kemaslahatan dakwah dan kadang-kadang, ia menbinasakan diri sendiri dan keinginanmu.

Di semua ketika yang aku nyatakan itu, engkau merebahkan dirimu dan bersujud lalu berbisik, “Ya Rab, masihkah ada harapan untukku di dunia ini?”. Di saat itu, engkau memikirkan sampai bila harus dirimu bermain tarik tali antara kehendak dakwah dan kehendak nafsumu. Maka Rabbmu telah pun berkata di dalam Surah Fussilat, ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada merka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (41:30)

Bergetarlah hati engkau lalu engkau berbisik, “Rabb aku ialah Allah” dan terus beristiqamah dengan pilihan yang telah ditetapkan. Engkau bergembira untukNya dan engkau menangis untukNya.

Begitulah hidupmu. Titipan ini bukanlah untuk tanda permusuhan antara manusia lain, tetapi inilah hakikat kemanusiaan yang wujud di dalam diri seorang da’ei. Dia sama sekali tidak memusuhi orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kenikmatan, malah menyayangi mereka lebih daripada diri mereka sendiri. Para du’at inilah yang seringkali menghadapkan dirinya kepada Tuhan pada malam hari supaya manusia-manusia di sekelilingnya turut bersama dengan para du’at suatu hari nanti.

Aku titipkan coretan ini supaya para du’at meletakkan harapan kepada Allah secara total kerana hakikatnya, kita ialah manusia yang lemah, faqir lagi miskin dan kita sangat memerlukan pertolongan dari Allah.  Pohonlah keampunan kepadaNya dan hubungkanlah hatimu kepada Allah tanpa rasa ragu-ragu dan beristiqamahlah dengan pilihan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kamu dan sesungguhnya perjalanan dakwah ini ada dua; sama ada kita berjalan menuju kemenangan Islam atau kita berjalan kembali kepadaNya dengan syahid. Katakanlah kepada dunia, “Rabb aku ialah Allah!” dan istiqamahlah dengan kata-katamu.

Wallahua’lam.

***

-filhaqiqatulislah-

Kami mengepung manusia dengan cinta

Advertisements

Ulasan daripada Pembaca

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s